Settia

Pengamat: Rano Karno Belum Pasti Diusung PDIP dan Sulit Dapat Koalisi Parpol

BERBAGI

SERANG, BCO – DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) hingga kini belum menerbitkan surat rekomendasi terkait siapa yang bakal diusung untuk maju sebagai bakal calon gubernur dan wakil gubernur pada Pilgub Banten 2017 mendatang.

Nama Gubernur Banten yang juga kader internal PDIP, Rano Karno, yang sementara ini digadang-gadang bakal diusungpun belum bisa dipastikan, karena belum terbit surat resmi yang ditandatangani Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarno Putri, sebagai legitimasinya.

Meskipun menurut hasil survey beberapa lembaga menempatkan elektabilitas Rano Karno diposisi paling tinggi, jika dibandingkan tokoh-tokoh lain seperti Wahidin Halim, Andika Hazrumy dan Achmad Dimyati Natakusumah. Namun sejumlah pengamat politik menilai posisi Rano Karno sebagai bakal calon petahana masih terbilang lemah.

Akademisi dari Universitas Serang Raya (Unsera), Abdul Malik, bahkan menilai, Rano Karno bisa kemungkinan tidak diusung oleh PDIP di Pilgub Banten 2017 mendatang.

“Faktanya hingga hari ini mendekati waktu pencalonan Rano belum bisa menunjukan bukti surat rekomendasi dari DPP,” ujar Malik saat ditemui di kantornya, Kamis 18 Agustus 2016.

Ia menilai PDIP merupakan salah satu partai yang unik dan senantiasa memberikan kejutan di titik akhir, seperti kabar pengusungan Foke (Fauzi Bowo) pada Pilkada DKI 2012 silam dan rencana pengusungan Prabowo pada Pilpres 2014, dimana semuanya berakhir begitu saja di detik akhir.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unsera tersebut memprediksi akan ada banyak kejutan yang bakal disajikan partai politik.

Walaupun begitu, PDIP dinilai sudah sangat terlambat jika harus memunculkan nama baru untuk diusung.

“Rano ini punya investasi masa dan konstituen yang besar, bahkan sebelum dia jadi gubernur, coba siapa yang tidak kenal Si Doel. Itu modalnya, apalagi konstituen wanita yang cenderung sudah jatuh hati sama artis seperti Rano,” tambahnya.

Akademisi lain yang juga mengomentari hal ini adalah Dosen Politik Untirta, Leo Agustino. Ia memprediksi akan ada perubahan susunan koalisi yang saat ini sudah terbentuk, selain itu tokoh-tokoh yang dimunculkan saat ini belum tentu akan menjadi kandidat yang akan bertarung di Pilgub Banten 2017 mendatang.

“Koalisi di Indonesia tidak pernah stabil, saya khawatir koalisi ini tidak betul-betul permanen. Kita tidak tahu terkadang dalam konteks politik selalu ada ruang abu-abu yang kadang-kadang elit politik berbicara manis di depan kita tetapi dibelakang kita dia “keukeuh” dengan pilihan itu,” ujarnya.

Sementara akademisi Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) Banten, Nasrullah, bahkan menilai PDIP sebagai partai pemenang pemilu yang hingga kini belum mampu mengunci koalisi untuk Pilgub Banten 2017, salah satu faktornya adalah karena sosok Rano Karno yang dinilai lemah.

PDIP sendiri belum aman bisa mengusung Rano Karno sebagai bakal calon gubernur, karena jumlah kursi PDIP di DPRD Banten hanya 15, dari 17 kursi yang disyaratkan KPU.

“Saya menilai Rano Karno lemah secara figur dan juga komunikasi politiknya, sehingga PDIP belum bisa menarik parpol untuk berkoalisi. Sosok Rano yang petahana saja, ternyata belum bisa menjadi jaminan bagi parpol untuk optimis bisa meraih kemenangan di Pilgub Banten, bahkan skema sejumlah tokoh yang dipasangkan dengan Rano ternyata tidak mendongkrak elektabilitasnya,” ujar Nasrullah.

Settia

Ditambahkan Nasrullah, Rano Karno sebagai petahana tidak solid didukung oleh birokrasi dan ASN. Ini dampak dari keputusan Rano Karno yang memberhentikan Sekretaris Daerah, turut menyumbang konflik di tubuh birokrasi.

Rano juga dinilai terlalu masuk pada konflik keluarga Ratu Atut, dengan terlalu memberikan angin surga untuk Tb Haerul Jaman yang digadang-gadang sebagai calon wakilnya.

“Rano Karno dinilai memperkeruh suasana di Banten, bukan problem solver saat keluarga Atut terjerat kasus, ini membuat parpol tidak begitu tertarik terhadap sosok Rano. Belum lagi tidak adanya kejelasan dampak positif apa yang akan didapat parpol jika mengusung Rano,” jelas pria asal Menes, Pandeglang ini.

Nasrullah juga menilai PDIP melakukan blunder karena tidak memberi kesempatan kepada kader PDIP lainnya selain Rano Karno untuk masuk dalam kancah wacana Pilgub Banten. Padahal hasil survey elektabilitas Rano sampai dengan bulan Juni lalu tidak signifikan untuk kelas bakal calon petahana.

“Apalagi dari calon parpol koalisi memang belum ada tokoh yang mampu menutup kelemahan Rano secara mendasar untuk jadi wakilnya, ditambah lagi program dan gebrakan Rano akhir-akhir ini tidak mendongkrak elektabilitasnya sebagai petahana,” tutup Nasrullah. (*)