Settia

Ulama dan Santri NU Kota Serang Menilai Pemerintah Pusat Sudutkan Ummat Islam Dalam Kasus Razia Warteg

BERBAGI

SERANG, BCO – Ulama Nahdlatul ‘Ulama (NU) dan santri dari Ikatan Santri Salafiah (Insaf) mengkritisi sikap Presiden Jokowi, Mendagri Tjahjo Kumolo, dan para Netizen yang memberikan bantuan kepada Ibu Saeni pedagang warteg yang melanggar aturan Perda Kota Serang, Selasa 14 Juni 2016.

“Bagi para donatur, silahkan ingatkan juga Ibu Saeni agar bisa menyesuaikan diri. Dimana bumi di pijak, di situ langit dijunjung. Ini juga berkaitan dengan cara didik kita kepada generasi muda,” kata Ketua PCNU Kota Serang, KH. Matin Sarkowi.

Dirinya berkisah ada almarhum Adrian yang orang tuanya sampai mengemis di depan Istana Negara, Jakarta, untuk bertemu Jokowi agar membeli ginjalnya seharga Rp 1 miliar untuk mengobati penyakit hepatitis anaknya. Bahkan hingga akhirnya sang anak meninggal dunia, tak mendapatkan pengobatan secara maksimal karena keterbatasan biaya.

Selain almarhum Adrian, ada juga bayi Imas penderita Hidrosefalus di Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Banten, yang merupakan anak dari orang tua buruh lepas dan ibu yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

“Kami benar-benar tersinggung. Seolah-olah menyudutkan umat Islam di Kota Serang dengan tudingan tidak toleransi. Kami mohon yang berada di pusat jangan sembarangan bicara tanpa tahu kondisi di lapangan seperti apa. Sebab hanya akan memperkeruh suasana. Mereka sibuk mengomentari masakan yang diangkut, tapi tidak memberikan peringatan kepada para pedagang yang berjualan di luar jam yang telah ditetapkan,” kecam KH Matin.

Kyai ini pun mengisahkan dimana di Pulau Bali saat perayaan Nyepi ummat Hindu, masyarakat Islam begitu menghargai ummat Hindu yang sedang beribadah. Bahkan Bandara Ngurah Rai pun harus berhenti beroperasi yang menghentikan perekonomian mencapai ratusan miliar.

Lalu mengapa warteg yang tutup di siang hari bulan Ramadhan harus dipersoalkan oleh pemerintah pusat.

“Jangan samakan Kota Serang dengan Jakarta atau daerah lainnya. Kita ini Bhineka Tunggal Ika, harus saling menghargai. Tapi jangan salah kaprah, yang harus dihargai itu orang yang sedang berpuasa dan bukan sebaliknya,” tegasnya.

Perlu diketahui bahwa Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, pada Senin 13 Juni 2016 di Komplek Istana Negara menyatakan, bahwa yang berpuasa seharusnya menghormati orang yang tidak menjalankan ibadah puasa, sebagai bentuk toleransi. (*)