Settia

Warga Pulosari Harus Jalan Kaki 1 KM untuk Antarkan Anak-anak Masuk Sekolah di Hari Pertama

BERBAGI

PANDEGLANG, BCO – Hari pertama masuk sekolah, seperti biasa membuat para orang tua nampak sibuk untuk mengantarkan anak-anaknya ke sekolah, bahkan tidak sedikit juga yang harus menemani hingga bel akhir pelajaran berbunyi.

Ini juga yang dilakukan seorang ibu bernama Rukmi (45). Keterbatasan akses tak menyurutkan seorang Ibu mengantarkan anaknya menuju salah satu Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Pandeglang ini.

Hal itu tetap dilakukan meski harus berjalan kaki sejauh satu kilometer, demi memberikan semangat pada anaknya yang baru masuk sekolah pagi ini.

Rukmi (45) warga Kampung Pandat Kecamatan Pulosari, terlihat sedang menggandeng putri tercintanya Fitri, dan ini untuk pertamakalinya sang buat hati diantarkan menuju SDN 1 Sukasari Kecamatan Pulosari.

Kendati sang ibu dari desa ini tidak pernah merasakan pendidikan yang tinggi. Namun nalurinya sebagai ibu memahami betul bagaimana caranya memberikan motivasi agar sang buah hatinya itu semangat dalam belajar.

Rukmi juga tidak ingin anaknya hanya mengenyam pendidikan alakadarnya. Ia bercita-cita, Fitri kelak harus bisa terus bersekolah hingga ke jenjang perguruan tinggi.

“Biar semangat kalau diantar orang tua mah,” ujar Rukmi kepada BCO, Senin 18 Juli 2016.

Settia

Rukmi bukan satu-satunya orangtua yang terlihat mengantarkan anaknya menuju tempat pendidikan tersebut untuk pertama kalinya. Ada puluhan orang tua lain di desa itu yang juga turut mengantar putra-putrinya.

Keterbatasan alat transportasi di daerah tersebut menjadi alasan Rukmi dan puluhan orang tua lainya harus berjalan kaki melewati tanjakan tinggi Bangangah, di jalur Pandeglang – Caringin tersebut.

“Enggak ada angkot kalau disini, yang ada ojek itu juga mahal,” imbuhnya.

Memang tidak tersedianya angkutan umum yang melintas, menjadi alasan orang tua dan siswa harus berjalan kaki menuju sekolah-sekolah di daerah sekitar Pegunungan Pulosari ini. Kendati demikian, semangat berpendidikan ternyata tidak surut bagi masyarakat di daerah tersebut. (*)