Settia

“Budayawan Juga Punya Hak Politik” Opini Dukungan Buat Gol A Gong

BERBAGI

BUDAYAWAN JUGA PUNYA HAK POLITIK

 

oleh: Aip Saifullah 

Sekretaris Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia (KPRI) Banten

 

 

BELAKANGAN ini telah beredar permintaan dan statement seorang sastrawan dan budayawan Banten, Gol A Gong, tentang permintaannya kepada Ketua Umum PDIP ibu Megawati Soekarnoputri untuk tidak menyandingkan Rano Karno dengan keluarga dinasti mantan penguasa Banten yaitu Andika Hazrumy, anak Ratu Atut Chosiah, atau Tubagus Haerul Jaman, adik Ratu Atut beda ibu. Selain itu Gol A Gong juga berstatement dengan hastag #NoDynasty, dengan maksud ‘tidak untuk keluarga dinasti’.

 

Seperti publik ketahui, bahwa Gubernur Ratu Atut telah ditangkap oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan juga menyeret adik kandungnya, Tubagus Chaeri Wardhana karena satu keluarga tersangkut korupsi.

 

Pernyataan Gol A Gong ini tersebar di medsos pada 11 Juli 2016, rupanya media Berita Cilegon Online (BCO) juga mengunggahnya. Namun kurang dari 24 jam statement Gol A Gong mendapatkan counter dari tulisan pemuda bernama Arwan, yang mengakui salah satu pendukung Andika Hazrumy “Aku Hanya Bagian dari Gerbong Perjuangan ANDIKA HAZRUMY” yang diangkat media InilahBanten sehari setelah tulisan Gol A Gong 12 Juli 2016. Dan lebih menariknya, Arwan juga mengaku pernah belajar menulis di Rumah Dunia, komunitas yang dibangun oleh Gol A Gong dan kawan-kawannya.

 

Melihat fenomena diatas, saya sangat senang karena Provinsi Banten sudah maju secara intelektual. Mereka tidak lagi menggunakan otot tapi otak, seperti slogan Gol A Gong ‘Saatnya Otak Bukan Otot’ atau slogannya Toto ST Radik ‘Simpan Golokmu, Asah Penamu’ (simpan bukan buang). Rupanya budaya tulis menulis sudah menjadi gairah wong Banten saat ini. Selain itu saya bangga dengan Gol A Gong yang telah menjadi pionir dunia literasi di Banten melalui Rumah Dunia. Selain itu Rumah dunia juga mencetak para penulis-penulis muda khususnya dari Banten, salah satunya saudara Arwan.

 

Mas Gong harus bangga terhadap saudara Arwan di mana dia berani mengkritik. Bagi saya ‘Keberhasilan seorang guru, ketika sang murid berani mengkritiknya, terlepas salah atau benar’.

 

Baiklah, mari kita lihat kebenaran sebuah thesis saudara Arwan yang menjadi poin utama dalam mengcounter surat permintaan Gol A Gong kepada Megawati dengan menggunakan huruf Kapital di InilahBanten.com “BUKANKAH BUDAYAWAN DAN POLITIKUS BERBEDA”. Thesis berbentuk pertanyaan, saudara Arwan tersebut tidak salah. Namun seorang budayawan juga adalah manusia yang mempunyai hak politik. Bagi saya tulisan Gol A Gong adalah sebuah sikap politik seorang budayawan, sekali lagi ‘sikap politik budayawan, bukan sikap politik politikus’ terhadap keadaan Banten pada saat ini.

 

Sekali lagi saya mengutip kebenaran thesis saudara Arwan “BUKANKAH BUDAYAWAN DAN POLITIKUS BERBEDA”.

 

Mungkin saudara Arwan pernah mendengar budayawan seperti Mocthar Lubis, Pramoedya Ananta Toer, WS Rendra, Sitor Sitomorang atau Widji Thukul. Mereka adalah budayawan-budayawan yang mempunyai sikap politik. Dengan karya-karyanya, mereka tidak memproduksi ilusi-ilusi agar publik bisa beronani. Tetapi, mereka mengungkapkan sebuah realitas sekelilingnya yang mempunyai relasi kuat dengan politik, maka konsekuensinya adalah jeruji besi bahkan nyawa.

 

Mengutip Gebar Sasmita, pelukis asal Banten, “Berkesenian/berkebudayaan tak bisa terpisah dari masyarakat. Apa arti sebuah kesenian kalau terpisah dari lingkungan”, thesisnya Gebar Sasmita mempunyai relasi politik yang amat kuat di mana seorang budayawan harus membumi dalam artian seorang budayawan harus tahu kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang mempunyai relasi sangat kuat dengan politik. Maka kewajiban seorang budayawan adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat agar “sadar”.

 

Saudara Arwan yang baik, sekali lagi, Gol A Gong adalah seorang budayawan bukan politikus dan seorang budayawan mempunyai hak politik dan bagi saya “Semua Tindak-Tanduk Manusia adalah Politik”. (*)

Settia