Settia

Ini Penyebab dan Dampak Kekeringan Menurut BPBD Kota Cilegon

BERBAGI

CILEGON, BCO – Hampir seluruh daerah di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir sedang mengalami kekeringan yang dikarenakan kemarau panjang, termasuk di Kota Cilegon. Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memberikan informasi kepada masyarakat terkait dengan bencana kekeringan yang terjadi. Berikut pengertian, penyebab dan dampak kekeringan menurut BPBD Kota Cilegon :

Kekeringan adalah merupakan salah satu bencana yang sulit dicegah dan datang berulang. Secara umum pengertian kekeringan adalah ketersediaan air yang jauh di bawah dari kebutuhan air untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Terjadinya kekeringan di suatu daerah bisa menjadi kendala dalam peningkatan produksi pangan di daerah tersebut. Di Indonesia pada setiap musim kemarau hampir selalu terjadi kekeringan pada tanaman pangan dengan intensitas dan luas daerah yang berbeda tiap tahunnya.

Kekeringan merupakan salah satu fenomena yang terjadi sebagai dampak penyimpangan iklim global seperti El Nino dan Osilasi Selatan. Dewasa ini bencana kekeringan semakin sering terjadi bukan saja pada periode tahun-tahun El Nino, tetapi juga pada periode tahun dalam keadaan kondisi normal.

Sedangkan penyebab kekeringan menurut BPBD adalah sebagai berikut :

– Adanya penyimpangan iklim;
– Adanya gangguan keseimbangan hidrologis; dan
– Kekeringan agronomis.

Penyimpangan iklim, menyebabkan produksi uap air dan awan di sebagian Indonesia bervariasi dari kondisi sangat tinggi ke rendah atau sebaliknya. Ini semua menyebabkan penyimpangan iklim terhadap kondisi normalnya. Jumlah uap air dan awan yang rendah akan berpengaruh terhadap curah hujan, apabila curah hujan dan intensitas hujan rendah akan menyebabkan kekeringan.
Gangguan keseimbangan hidrologis, kekeringan juga dipengaruhi oleh adanya gangguan hidrologis seperti :

– Terjadinya degradasi Daerah Aliran Sungai (DAS) terutama bagian hulu mengalami alih fungsi lahan dari bervegetasi menjadi non vegetasi yang menyebabkan terganggunya sistem peresapan air tanah;
– Kerusakan hidrologis daerah tangkapan air bagian hulu menyebabkan waduk dan saluran irigasi terisi sedimen, sehingga kapasitas tampung air menurun tajam;
– Rendahnya cadangan air waduk yang disimpan pada musim penghujan akibat pendangkalan menyebabkan cadangan air musim kemarau sangat rendah sehingga memicu terjadinya kekeringan.

Kekeringan agronomis, terjadi sebagai akibat kebiasaan petani memaksakan menanam padi pada musim kemarau dengan ketersediaan air yang tidak mencukupi.

Settia

Sedangkan Wilayah yang biasanya mengalami kekeringan menurut BPBD adalah :

– Daerah pertanian tadah hujan;
– Daerah irigasi golongan 3;
– Daerah gadu liar; dan
– Daerah endemik kekeringan

Dan BPBD kota cilegon menjelaskan dampak dari kekeringan adalah :

– Produksi tanaman turun/rendah/puso bahkan menyebabkan tanaman mati sehingga merugikan petani;
– Karena produksi rendah secara riil mengalami kerugian material maupun finansial yang besar dan bila terjadi secara luas, akan mengancam ketahanan pangan nasional;
– Menyebabkan terganggunya hidrologis lingkungan yang berakibat terjadinya kekurangan air pada musim kemarau. (ADS)