Settia

Patuhi Kode Etik Jurnalistik, Pers Miliki Peran Dalam Penanganan Teroris

BERBAGI

CILEGON, BCO- Penyebaran aksi terorisme dan radikalisme kini sudah masuk dalam perkembangan media. Maka, peran pers sangat penting dalam upaya penanggulangan terorisme bersama dengan aparat penegak hukum yang ada. Demikian yang disampaikan oleh Ketua Dewan Pers Republik Indonesia Margiono dalam acara Dialog Pencegahan Terorisme di Audiditorium Kampus Untirta Serang, Selasa 10 November 2015.

“Peran media itu seperti dua mata pisau, ada yang baik dan ada yang buruk. Untuk itu peran media harus bisa diantisipasi sejak dini, karna media memiliki potensi besar dalam penyebaran faham-faham radikalisme dan terorisme,” kata Margiono dalam dialog yang digelar oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Banten dan bekerjasama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Banten.

Ketua Umum PWI Pusat ini juga mengatakan, media seharusnya bisa dijadikan sebagai pencegahan terorisme dengan penyampaian konten-konten informasi yang baik. Dengan memegang tegu kode etik jurnalistik, pers akan berimbang dalam menyampaikan informasi.

“Penyalah gunaan fungsi pers terjadi ketika sudah melanggar kode etik jurnalistik, seperti pemutar balikan fakta dan menyebar berita kebohongan. Untuk itu, perlu adanya kepatuhan melaksanakan kode etik jurnalistik,” kata Mardiono.

Kapolda Banten Brigjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan, pers harus memberikan menyampaikan berita yang imbang dalam permasalahan pemikiran radikalisme dan terorisme. Jangan sampai media dijadikan tempat penyebaran faham yang salah.

“Opini yang baik harus dibangun oleh pers. Sehingga penyajian informasi bisa dipertanggungjawabkan dan masyarakat bisa menilai mana yang baik dan buruk terhadap informasi tersebut,” kata Boy.

Boy menilai peran pers dalam pencegahan teroris memiliki peran sangat setrategis. Pers harus menyampaikan informasi yang benar terhadap konten terorisme, baik pemahaman dan motif perilaku terjadinya teror.

“Berdasarkan hasil penyelidikan, terjadinya sejumlah aksi teror di Indonesia bukan hanya menggunakan simbol dan pemahaman agama yang disalah gunakan, dibalik itu semua tindakan teror dilatar belakangi dengan motif ekonomi dengan imbalan hadiah yang besar, serta motif lain dalam persaingan politik,” kata Boy. (*)

Settia