Settia

Diduga Kembali Bocor, Warga Kali Baru Geruduk Pabrik Kimia PT Dover Chemical

BERBAGI

CILEGON, BCO – Hampir seratusan warga Lingkungan Kali Baru, Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon. Melakukan aksi unjuk rasa didepan Pabrik Kimia PT Dover Chemical Plant B, Jalan Raya Merak. Sabtu, 26 Oktober 2019.

Dalam aksi demontrasi tersebut, masyarakat mengeluhkan bau gas yang menyengat diduga karena adanya kebocoran ditempat tersebut. Kejadian ini juga telah berlangsung tiga hari lamanya. “Bau gasnya dari kamis malam, jadi ngikutin arah angin. Bahkan tadi pagi ada ibu dan anaknya yang pingsan diduga menghirup gas dari kebocoran dover,” Kata Affa Sukuan, Ketua RT 04/02 Lingkungan Kali Baru.

Settia

“Yang pingsan tadi udah ditangani, katanya sekarang di rskm. Kami belum tahu masalahnya apa, namun diduga karena gas ini,” tambahnya.

Tak hanya mempertanyakan soal kebocoran tersebut, seorang warga juga menuntut perusahaan untuk tutup atau tidak beroperasi lagi, lantaran seringnya mengalami kebocoran dan sangat merugikan warga sekitar pabrik kimia ini. “Mending tutup ajalah, percuma operasi juga merugikan masyarakat,” ungkap Andi.

Warga saat menyampaikan kekesalannya didepan Humas PT Dover Chemical/Foto: Adji (www.bco-tv.com)

Sementara itu, Humas PT Dover Chemical Rahmatulloh, mengaku tidak mengetahui proses produksi secara tekhnis yang berjalan dipabrik tersebut. Namun, ia juga mengungkapkan perusahaan akan bertanggung jawab dari segi kesehatan untuk warga yang menjadi korban lantaran menghirup gas tersebut. “Kami sampaikan permohonan maaf pada masyarakat, karena memang proses produksi sendiri kami tidak pernah tahu seperti apa hal-hal yang bersifat tekhnisnya, kita juga akan bertanggung jawab dari sisi kesehatan dan ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan,” katanya.

Rahmatulloh juga menjelaskan, saat kejadian tersebut pabrik sedang dalam kondisi pemanasan dan tidak bisa di matikan secara langsung. Melainkan harus mengikuti tahapan-tahapan pendinginan. “Proses pendinginan inilah yang memang ada indikasi yang menyebabkan adanya indikasi yang tercium oleh warga,” jelasnya.

Disinggung soal waktu pendinginan, Rahmatulloh mengaku tidak mengetahui hal tersebut. Menurutnya, ia hanya menyampaikan terkait dampak lingkungan saja. “Itu yang tahu orang tekhnis, kami melihat dari sisi lingkungan saja,” tambahnya. []