Settia

Lintasi Tiga Benua, 2 Mercy Tua Dari Banten Nampang di Jerman

BERBAGI

STUTGART, BCO – Mercedes Benz Museum yang berlokasi di sebelah selatan Negara Jerman atau berada di Kota Stutgart, merupakan  sebuah museum yang tidak sekedar menyimpan koleksi mobil Mercedes Benz dari tahun ke tahun. Selain itu, Museum Mercedes Benz sendiri tidak hanya menjadi sebuah tempat untuk mengenang sejarah ototmotif, tetapi juga mampu memberikan pengalaman tersendiri umumnya bagi para peserta Touring yang sengaja menyempatkan berkunjung ke tempat tersebut.

Sejarah singkat mengenai perjalanan Museum ini dapat dilihat dari jejeran mobil – mobil tua berbagai era buatan dari pabrikan Otomotif Jerman yakni Mercedes Benz, ditempat ini pengunjung bisa melihat mobil dengan mesin satu silinder yang siap dipasarkan oleh pabrik otomotif tertua di dunia ini hingga ke masa depan transportasi dunia. Lengkap dengan konfigurasi setting kondisi sosial politik yang merubah jaman. Mulai dari perang dunia, penemuan atom, individual era, hingga internet dan sosial media.  Jadi pengunjung tak sekedar menonton display mobil sebagai sebuah benda, namun ia menjadi benang merah kisah yang menembus ruang dan waktu.

Museum ini menjadi salah satu destinasi Touring Lintas Negara yang diselenggarakan sebuah klub otomotif asal Banten, yaitu Mercedes Benz Club Banten. Kegiatan yang bertajuk Mengembara Lintas Benua ini diikuti oleh 7 orang peserta menggunakan dua buah kendaraan yaitu Mercedes Benz 280 E buatan tahun 1983 dan G 300 buatan tahun 1995. Sejak start dari halaman masjid Agung Banten pada tanggal 20 Mei 2018 lalu, kini Tim Mengembara Lintas Benua telah melintasi 26 negara di 3 Benua dari total 52 negara yang akan dilintasi hingga finish di Banten pada bulan September 2019 mendatang.

 

“Sebenarnya yang diperbolehkan parkir di depan museum hanya mobil yang berusia lebih dari 30 tahun. Jadi hanya salah satu dari dua mobil yang mereka gunakan, karena mobil G 300 masih berusia 24 tahun. Tetapi, begitu pihak museum tahu dua kendaraan ini telah menempuh 42.000 km dari Indonesia ke Stuttgart, maka keduanya dipersilahkan parkir di depan pintu masuk museum. Dan ini menjadi kendaraan pertama asal Indonesia yang berada di sana. Akhirnya dua kendaraan ini menjadi pusat perhatian dan objek foto para pengunjung museum dari berbagai Negara,” Ungkap Iip Team Leader dari kegiatan Mengembara Lintas Benua dalam keterangan tertulisnya.

 

Iip juga menambahkan, bahwa nampang di depan museum tersebut hanya sekedara symbol, tetapi  Menurutnya, yang lebih penting dari itu adalah menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia diterima di berbagai negara tanpa resistensi.

“Tim ini sengaja menuliskan nama Indonesia di kaca depan mobil dengan huruf besar berwarna merah putih untuk menguji apakah orang tahu tentang Indonesia dan diterima atau tidak melintasi negaranya. Karena tujuan perjalanan ini adalah untuk mengkonfirmasi pengaruh Indonesia di negara-negara yang dilintasi dalam tataran citizenship, people to people. Itu mengapa rute yang dipilih menghindari jalan tol supaya lebih mudah berinteraksi dengan masyarakat lokal serta melihat lanskap mulai dari wilayah pedesaan,” katanya.

 

Setelah dari Stuttgart, Tim Mengembara Lintas Benua akan melanjutkan perjalanan ke Scandinavia, Rusia, Asia Tengah, Cina, Indochina dan kembali ke Indonesia. Hasil dari perjalanan ini akan dibukukan dan dirilis dalam sebuah film dokumenter. Saat ini kisah perjalanan mereka bisa diikuti di www.mengembara.id dan instagram @mengembaralintasbenua.

 

Presiden Mercedes Benz Club Banten, Didi Hariyadi (40), memaparkan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu program kerja klub otomotif tersebut dan tidak ada hubungannya dengan principal Mercedes-Benz. Ia menegaskan bahwa meskipun membawa nama brand sebuah perusahaan otomotif, bukan berarti disponsori oleh perusahaan otomotif tersebut. Pembiayaan ditanggung swadaya oleh klub.

“Ini bukti nyata untuk menunjukkan pada dunia eksistensi klub otomotif Indonesia. Memilih menggunakan kendaraan berusia lebih dari 30 tahun ini juga merupakan salah satu cara memperlihatkan bahwa skill pecinta otomotif di Indonesia tak boleh dipadang sebelah mata. Buktinya mampu mengawal mobil tua melintasi 3 benua,”tutupnya. (*)

Settia