Settia

Wacana Full Day School, Walikota Cilegon Keberatan

BERBAGI

CILEGON, BCO – Usulan perpanjangan jam belajar atau full day school yang akan diterapkan di sekolah dasar (SD) dan menengah (SMP) sebagaimana yang diwacanakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, banyak menuai pro dan kontra dari sejumlah kalangan hingga pimpinan daerah.

Settia

Salah satunya di Kota Cilegon dimana masih banyak orangtua siswa yang menginginkan anaknya untuk sekolah di madrasah selepas belajar di SD.

Walikota Cilegon, Dr Tb Iman Ariyadi ketika dimintai tanggapannya terkait dengan penerapan sistem pendidikan full day school oleh kemendikbud tersebut mengatakan, wacana untuk penerapan sistem pendidikan tersebut agar diserahkan kepada masing-masing daerah.

“Serahkan sama masing-masing lokal (daerah) saja lah. Yang pentingkan tujuan akhirnya ya lulus, ya bagus, pinter tapi berakhlak, ya sudah gitu aja,” ujar Dr Tb Iman Ariyadi saat ditemui di sela kegiatannya, Rabu 1 November 2016.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Cilegon, Muhtar Gozali mengungkapkan jika kebijakan wacana penerapan full day school tersebut masih dalam proses pengkajian di kementerian pendidikan dan kebudayaan, dimana Dindik Kota Cilegon sendiri sudah mengusulkan untuk menyesuaikan dengan kultur dan kebiasaan masyarakat Cilegon terutama untuk para orang tua yang memiliki anak yang masih belajar di SD masih menginginkan anaknya untuk belajar ilmu agama di sekolah madrasah.

“Kita (sudah) memberikan masukan kepada kementerian (pendidikan dan kebudayaan). Sore hari jam 2 itu (siswa SD di Kota Cilegon) harus ada di madrasah, ini yang harus pengkajian betul. Kalau pun mungkin dikaji misalnya sudahlah di sekolah itu diberikan juga pendidikan karakter agamanya disitu, tetapi kan kita berbicara dengan madrasah-madrasah yang sudah ada, jangan sampai juga mereka tidak mendapatkan siswa,” ungkap Muhtar.

Muhtar mengatakan, penerapan sistem full day school yang diwacanakan oleh Kemendikbud tersebut bisa saja diterapkan di tingkat SMP, namun untuk penerapan di tingkat SD masih membutuhkan kajian dan penyesuaian.

“Maka kami memberikan masukan kalau untuk SMP ini masih bisa, karena pada sore hari siswanya tidak lagi sekolah di madrasah,” katanya.

Tetapi Muhtar juga mengatakan jika keputusan penerapan full day school tersebut sudah menjadi keputusan final, maka pihaknya akan segera mendiskusikan dengan pimpinan daerah.

“Kita menunggu dulu sesungguhnya ini seperti apa yang diinginkan kementerian. Kalau kementerian udah ada kebijakannya, nanti kita diskusikan dengan pak wali,” katanya.(*)